Siapa sangka akan mendapat kenang-kenangan semanis ini.

Kata-kata berikut ini pasti lah sering didengar, baik dalam hal kemujuran maupun kesusahan, terlebih jika hidup dekat dengan orang jawa.

“ya sudah untung hanya itu saja, tidak dengan ini dan itu”.

Sepintas rasanya kata-kata itu melegakan, namun juga perih dihati. Ketika kata-kata sepele itu terdengar ditelingaku, hal tersebut membuatku tertarik. Bagaimana kata-kata seperti itu bisa terucap?
Menurutmu, apakah kata-kata itu diucapkan karena biasanya orang lain juga mengucapkan hal sama seperti itu? atau karena pada saat itu, dengan kesadaran penuh dan disertai ucapan syukur lalu munculah kata-kata itu? atau memang ada perenungan khusus yang memerlukan waktu dan pikiran yang dalam untuk dapat menemukan ungkapan itu? Atau malah yang mendapat ucapan itulah yang seharusnya merenungkan dan memikirkan ucapan itu?
Wah.. apa ini ilmu orang jawa ya? kog rasanya semakin dalam saja.

Ups tunggu!!

Sepertinya perlu dicermati lagi ketika kata-kata itu diucapkan perlu diperhatikan juga, kepada siapa kata itu disampaikan. Meski kata-kata yang diucapkan terdengar sama tapi ‘rasa’nya berbeda ketika kata-kata itu diucapkan kepada orang yang dinilai baik dan orang yang dinilai tidak baik. (Untuk yang satu ini “baik” tidak perlu diperdebatkan dengan serius).

Sebagai gambaran ketika mendapat musibah kata-kata yang muncul seperti berikut; ”sudah untung hanya luka ringan tidak sampai patah”, “sudah untung masih diberi hidup, tidak sampai meninggal dunia.” Sementara ketika mendapat kemujuran, “sudah untung mendapat hadiah uang Rp. 10.000 dari pada tidak sama sekali”, “sudah untung tidak dipenjara seumur hidup”

sekedar diucapkan ataukah ada perenungan yang dalam ya…

Hari itu, Rabu 7 Maret 2012.


About this entry