Ragu upload ini

Usai Ragu (rapat ragu) tadi siang, mau pulang tapi agak ragu karena masih hujan.. Pelan-pelan pakai cardigan dan jas hujan, lalu mampir deh ke pasar! Beli sayur dan daging dengan uang pas-pasan.. Giliran mau bayar parkir, waduh.. Ternyata udah gak ada uang.. Untung bapak tukang parkirnya baik.. “wes gpp mbak..” waahhh legaaa banget denger bapak tukang parkir bilang gituu… Dalam hati sambil berdoa, berkati bapak tukang parkir ini ya bapa.. Dengan tarikkan pasti, motor melaju.. Tapi… Tetap ada  ragu dan kebingungan untuk memilih jalan pulang.. Lewat mana yaaa… Pilih jalan lurus aja deh.. Pikirku.
Perjalanan seperti biasanya.. Rasanya tidak ada hal yang menarik di sepanjang perjalanan.. Namun ternyata ini berbeda. Di jalan itu terlihat berjajar orang-orang dan motornya di pinggir jalan dengan raut muka panik, takut, cemas, was-was dan mengiba.. Ada yang tidak beres. Aku parkir di bahu jalan, entah sudah benar atau belum aku tidak begitu memperhatikan parkirku. Setelah mencoba mencari tahu dari orang-orang yang ada di tempat itu, aku tahu bahwa di atas pohon ada seorang bapak yang tersengat aliran listrik, lantaran beliau sedang mencari pucuk-pucuk daun (untuk makanan ternak) dari atas pohon yang basah dan teraliri listrik  (pada saat itu masih gerimis). Istrinya yang baru saja datang dan mengetahui hal itu, tiba-tiba berlari kearah tempat kejadian sambil menjerit, namun orang-orang di tempat itu hanya diam dan melihat termasuk saya yang sedang memparkir motor. Tidak ada yang berani memberi pertolongan maupun mencegah ibu ini. Ibu ini kemudian pingsan, karna tidak kuat hati. Aku yang ingin segera pulang segera membatalkan niatku. Aku melihat di sekelilingku, tidak ada seorangpun yang menolong ibu ini. Hanya seorang tetanggannya yang duduk memangkunya. Aku putuskan untuk segera melepas jas hujanku, ku buka tas ku, ku ambil minyak gosok dan berusaha untuk menyadarkan ibu ini. Bajunya yang basah membuat ibu ini semakin kedinginan. Sementara aku hanya memakai cardigan tipis yang kemudian aku lepas untuk mengeringkan tangan dan badannya, sepertinya sedikit berhasil. Setelah itu saya dengan seorang ibu yang menolong mencoba mencari bantuan agar ibu ini segera mendapat pertolongan yang lebih layak.
Ternyata tidak mudah. Mereka lebih tertarik dengan peristiwa yang terjadi, bukan terjun langsung untuk bersama mengatasi. Semoga ini kesimpulan yang salah. Di sisi lain, sepertinya suami ibu ini sudah mendapat pertolongan dari petugas PLN, meski orang-orang sudah mengatakan dengan pasti bahwa bapak ini tidak tertolong nyawanya. Saya saat itu hanya memikirkan kalau memang aku tidak bisa menolong bapak itu, setidaknya aku bisa menolong ibu ini. Saat itu, ada seorang bapak yang akan parkir disamping kami, kemudian ibu yang bersama saya mengatakan, mas, bisa tolong angkat ibu ini, istri korban, dia pingsan” jawabanya “ya, sebentar saya panggilkan ambulan yang dibawah itu” namun tidak kembali. Lagi, “mas, ayo tolong angkatkan ibu ini ke tempat yang agak teduh” jawabnya “wah saya tidak kuat, yang lainnya mana?” akhirnya saya mengatakan kepada ibu yang menolong, mari bu kita angkat bersama ketempat teduh, pasti kuat kog. Ibu ini agak ragu.. Sampai akhirnya datang seorang dan mengatakan “sudah biar saya angkat” bersyukur ibu ini ada yang menolong. Namun saya agak ragu.. Apakah ibu ini akan segera sampai rumahnya? Akhirnya saya mengikuti menggunakan motor. Eh.. Sampai di depan teras rumah seseorang, ternyata ibu ini tidak diijinkan untuk diteduhkan sementara agar tidak kehujanan, sehingga masih terus digotong. Bahkan satu motorpun tidak ada yang mau mengantarkan kerumahnya. Nangis batin aku. Aku menghampiri dan mengatakan mari biar saya yang antarkan menggunakan motor. Mungkin nanti salah satu ibu memegang dari belakang. Kembali ibu-ibu ragu. Maklum badanku kan kecil. Akhirnya orang yang mau membopong tadi mau menyetir dan aku yang menjaga dari belakang. Di jalan saya bertanya, dengan siapa ibu ini tinggal jauhkah rumahnya? Katanya dia tinggal dengan anaknya dan rumahnya tidak jauh. Tapi mungkin jika kita bawa ibu ini pulang, tidak ada orang yang merawatnya. Wah,,, kaget saya.. Tapi kog dengan pede aku menjawab, ya ndak pp. Nanti biar saya jaga sampai sadar. Mulai masuk gang sempit dan becek, saya berteriak kepada ibu-ibu di sekitar, “bu saya minta tolong, ibu ini pingsan.” Secara,, mereka adalah tetangga.. Pasti akan langsung datang dan membantu, pikirku, pikiran orang kampung. Sampai di depan rumahnya saya dikagetkan lagi. Di depan pintu berdiri seorang anak perempuan. Namun dia tidak seperti kita yang saat ini mampu membaca tulisan ini, dia penuh kekurangan, tunagrahita dan cacat pada tangan kanannya. BAPA. Kami masuk masuk ke dalam rumah dan membaringkannya mencoba menyadarkannya kembali dan mengganti pakaiannya agar lebih hangat. Jangan dikira ini keluarga mampu. Rumahnnya ada di paling ujung, rumah kecil, dengan peralatan dan perabot terbatas, hanya ada tikar dan bantal, tidak ada kursi maupun dingklik (tempat duduk paling sederhana). Rumahnya gelap. Tidak ada jendela, hanya ada celah-celah papan yanga berlubang. Tidak lama setelah itu hanya beberapa saja yang datang dan mereka ibu-ibu yang sedang hamil, saya semakin tidak tega.. Kami hanya bertiga saja yang membatu menyadarkan ibu ini, wah.. Aku kog malah sedih dengan keadaan ini, bukan karena peristiwa yang dialami suami ibu ini. Mungkin hampir 30 hingga 40 menit saya bersama ibu-ibu memberi penguatan dan menyadarkan ibu ini dari pingsan, setelah saya rasa cukup banyak yang datang dan keadaan ibu ini semakin membaik, saya putuskan untuk berpamitan. Ibu ini juga masih mepunyai seorang anak laki-laki mungkin seusia adekku, dia sedang menangis, karena sudah tau bahwa ayahnya telah pergi. Aku hanya bisa mengatakkan satu dua kata saja.😦


About this entry