Kalimat Bergaya dan Bervariasi

A. Kalimat Bergaya

Kalimat efektif itu bertenaga. Ia memiliki suatu kekuatan mahagaib yang bisa menggerakkan tenaga, pikiran, maupun emosi pembaca. Kadang-kadang ia mampu menyuruh orang bertindak, membuat orang menangis, tertawa, meradang, atau merenung. Kalimat-kalimatnya yang kocak, kata-katanya yang memukau, memikat serta menguasai konsentrasi pikiran untuk membacanya terus sampai tamat.
Kenyataan yang ada pada penulis yang “baru mulai” adalah mereka terlalu disibuki oleh persoalan tentang “apa yang akan dikatakan” didalam karangan mereka. Sedang gaya kalimat tidak menitikberatkan persoalannya pada “apa yang hendak dikatakan”, tapi menekankan pada segi “bagaimana mengatakannya”.

Penulisan dengan Langgam Berbicara

Dalam mengarang, hendaknya menulis dengan langgam berbicara. Tak peduli apakah tulisan ini bersifat ilmiah, sepucuk surat, sebuah novel, dan sebagainya. Sebab pembaca tidak dibuatnya pasif, tapi mereka seperti diajak omong tentang sesuatu dan pada hakikatnya mengarang sama dengan berbicara atau omong.
Pada umumnya menurut studi bahasa gaya kalimat bertalian dengan tiga aspek, masing-masing :

1. Pemilihan kata

Faktor pemilihan kata turut menentukan tenaga sebuah kalimat. Pemilihan kata yang tepat dapat membuka “selera” pembaca seperti juga bumbu makanan yang dapat membuat orang makan lebih lahap. Untuk dapat membuka selera pembaca bahan yang diperlukan adalah kata atau kelompok kata tertentu.

a) Pilihan kata yang tepat

Dalam pilih memilih kata, yang penting supaya kata itu benar-benar mewakili apa yang kita maksud. Pertanyaan yang dalam hal ini sering berguna ialah “apa tak ada kata lain yang lebih tepat ?” Seandainya ternyata ada yang lain segeralah menukarnya. Contoh :
Pemerintah bekerja keras menahan laju inflasi.
Pemerintah berusaha keras membendung laju inflasi.
Akhirnya saya paham apa yang ia maksud
Akhirnya saya mengerti apa yang ia maksud
Perbedaan arti kata pada kalimat-kalimat diatas itu tidak seberapa, namun efeknya penting untuk memberikan tenaga pada sebuah kalimat.

b) Menggunakan kata yang bertenaga

Didalam sebuah kata, yang sehari-hari sering kita gunakan, sebenarnya tersimpan suatu kekuatan. Dengan cara yang serasi digunakan dalam kalimat, kekuatannya itu bisa menghasilkan kalimat yang sugestif, mampu menggerakkan tenaga, pikiran, dan emosi orang. Studi bahasa menunjukkan bahwa ada sejumlah kata yang sejak lahir sudah ditakdirkan memiliki tenaga kuat. Misalnya kata tendang lebih kuat dan kata sepak.

Rupanya antar fenom-fenom yang membentuk sebuah kata dengan tenaga kata itu memiliki hubungan erat. Begitu juga kata yang menunjukkan kerja atau gerak lebih bertenaga dari kata yang menunjukkan benda atau keadaan. Dan yang konkret lebih berkekuatan daripada yang abstrak.

Lemah : Ia melihat polisi sedang membongkar amunisi
Kuat : Ia menyaksikan polisi sibuk membongkar amunisi

Ada pula kata yang dapat dibuat lebih bertenaga dengan menggunakan morfem tertentu. Misalnya morfem me lebih bertenaga dari morfem di, dan mofem ter lebih bertenaga pula dari morfem ke, ber, atau kata yang tidak menggunakan morfem sama sekali.

Kurang bertenaga : Ketika berkemah banyak timbul kesan yang dapat dijadikan seribu kenangan.
Bertenaga : Ketika berkemah banyak muncul kesan yang dapat membawa seribu kenangan.

c) Hindarkan kata klise

Membaca dan menulis berarti bergaul dengan kata. Jika dalam suatu bacaan terdapat banyak kata yang kadang-kadang agak sukar dimengerti sering menimbulkan problem. Kata serupa ini disebut kata klise. Peranan kata klise ini besar untuk membuat kalimat kurang efektif, kecuali agaknya pada tempat yang sungguh-sungguh istimewa dan dengan cara yang istimewa pula.
Dalam bergaul dengan kata, selera pembaca zaman sekarang memang lain. Mereka senang dengan kata yang segar, yang mengungkapkan pengertian dengan jelas dan terang. Kejelasan itulah terutama yang membuat kaliamt mereka efektif, yang membuat pembaca sukarela menekuninya, yang menggerakkan hati dan emosi, yang menyuruh mereka merenung sekali-kali, atau tersenyum sendirian.

d) Konotasi dan Denotasi

Arti sebuah kata bisa menjadi dua macam. Pertama bersifat obyektif, masih asli, betul-betul menunjuk kepada obyek yang diwakilinya. Misalnya kata terbang dalam kalimat Burung terbang di udara. Disini kata terbang betul-betul menunjuk kepada suatu proses gerak yang terjadi di awang-awang, melayang dengan menggunakan sayap. Tapi lain sekali dengan kata terbang dalam kalimat Cepat, ia terbang ke balik pintu, bersembunyi sambil mengintip. Disini kata terbang tidak lagi asli seperti dalam kalimat yang pertama. Dalam hal ini, kata terbang sudah punya arti lain, sudah keluar dari artinya semula, sudah diberi “warna” oleh sikap dan emosi orang yang menggunakan kata itu.
Sifat netral yang dimiliki arti sebuah kata, seperti kata terbang dalam contoh pertama tadi, disebut arti denotatif. Dan kata yang tidak menyarankan arti lain di luar obyek yang diwakilinya itu disebut denotasi. Sebaliknya, sebuah kata yang telah diwarnai oleh sikap tertentu, seperti kata terbang dalam contoh yang kedua tadi, sudah mempunyai arti konotatif. Dan sikap emosi tertentu yang disarankan oleh sebuah kata disebut dengan istilah konotasi.
Jadi, kata yang denotatif lebih bersifat rasional dan kata konotatif lebih bersifat emosional. Kata setan, iblis, malaikat, bisa mempunyai arti denotatif dan bisa pula konotatif, bergantung pada ada tidaknya unsur emosi dengan sikap tertentu yang diberikan pada kata itu.
Ilmu kesusastraan telah berusaha menginventarisasikan berbagai bentuk pemberian konotasi pada kata. Gaya bahasa yang dihasilkannya disebut dalam berbagai macam istilah sesuai dengan sifatnya. Misalnya ada gaya personifikasi, pleonasme, hiperbola, litotes, eufimisme, paradoks dan sebagainya.

e) Kata yang tidak families

Tidak semua kata familier bagi kalangan masyarakat luas. Kata yang tidak familier itu pada umumnya adalah istilah asing atau kata yang berasal dari bahasa daerah. Lama-lama, setelah itu masyarakat dari berbagai kalangan telah turut menggunakannya, kata-kata itu dapat berubah menjadi milik umum. Biasanya masyarakat tidak lagi menganggap kata itu sebagai barang asing. Tapi proses ini memerlukan waktu.
Pemakaian kata yang belum familier di kalangan umum, besar sekali pengaruhnya terhadap tenaga sebuah kalimat. Lebih-lebih kalau jumlahnya banyak, tenaga kalimat bisa lemah karenanya. Kata itu bisa membuat pembaca lesu, bosan, kesal dan sebagainya, terutama apabila pengertian kalimat itu menjadi kabur akibat kata tersebut. Bagi pembaca, kalimat itu tidak lagi efektif dari sudut pengarang merupakan suatu pemborosan energi. Kata itu juga akan menjadi kurang fungsional, bahkan mengganggu kekompakan kata lain yang sama-sama beroperasi didalam kalimat itu.
Beberapa ketentuan dalam penggunaan istilah asing untuk menghindari efek negatif terhadap kalimat, antara lain :
1. Istilah asing dapat digunakan sepanjang istilah indonesianya belum ada.
2. Menyesuaikan ejaannya dengan ejaan bahasa Indonesia.
3. Menyesuaikan bentuk kata itu dengan morfologi bahasa Indonesia.

2.  Penyingkatan

Penyingkatan dapat menghasilkan kalimat yang lebih bertenaga. Mengadakan penyingkatan adalah cara yang efektif untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang efektif dan efisien. Pada umumnya tindakan penyingkatan itu bersifat merombak dan memperbaiki kalimat yang sudah jadi. Mana yang terlalu panjang, yang mengabukan arti, dipenggal menjadi dua atau lebih. Ini biasanya ditujukan terhadap konsep pertama, dengan catatan apabila memang dirasakan ada kalimat-kalimat yang membingungkan akibat “berpanjang-panjang” ini. Kalimat itu kemudian disederhanakan.
Proses mengarang melalui beberapa fase atau tingkat. Secara kronologis, tingkat yang dimaksud adalah sebagai berikut. Mula-mula membuat rencana dengan mengurutkan topik kecil-kecil yang akan dipaparkan, lalu disusun supaya ada hubungan logis. Kemudian pengarang berusaha melengkapi bahan, biasanya melalui bacaan atau wawancara supaya tulisan itu “berisi”. Dalam kedua fase ini tentu ada pula kegiatan kecil-kecil, seperti mengambil catatan terhadap bahan yang dibaca dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan pada proses menulis yang sesungguhnya berdasarkan rencana yang disusun tadi. Hasilnya disebut konsep pertama.
Tindak lanjut berikutnya ialah mengadakan revisi. Pekerjaan ini luar biasa pentingnya. Yang terpenting ialah mematut-matut kembali gaya kalimatnya. Kalau ada kaliamt yang dirasa kurang perlu, sebaiknya buang saja. Yang canggung tentu dilancarkan, yang keras dilembutkan, kata yang tidak fungsional, keluarkan, dan kalimat atau pengungkapan yang berpanjang-panjang singkatan.
Ada tiga macam kategori penyingkatan yang umum ditemui. Pertama, penyingkatan yang bersifat merombak struktur kalimat. Kedua, penyingkatan kata atau bagian kata yang dirasa kurang perlu. Dan ketiga, “penyunatan” ungkapan yang berkepanjangan.

a) Penyingkatan kalimat

Dalam konsep pertama, munculnya kalimat panjang lumrah sekali. Ini sebetulnya bukan masalah, asalkan kemudian dilakukan usaha penyingkatan. Tindakan ini sangat perlu, lebih-lebih terhadap kalimat permulaan dalam sebuah alenia. Penyingkatan itu pasti akan memberikan efek yang lebih baik. Sebab, kalimat yang lebih pendek lebih jelas dan terang maksudnya dibanding kalimat yang lebih panjang.
Kalimat mula dalam sebuah alenia sebaiknya berupa kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Sebab, kalimat itu memberikan pengaruh bagi pembaca dalam menangkap gagasan apa yang hendak dibicarakan penulis dalam alenia itu. Selain itu, kalimat sederhana itu sebaiknya sebuah pernyataan atau pertanyaan yang bersifat umum, sebuah generality, tidak berisi perincian atau detil.
Penyingkatan kalimat bertujuan untuk membuat kalimat lebih bertenaga, untuk menolong pembaca agar terbuka selera dan minatnya untuk terus membacanya dengan kemauan sendiri. Seorang penulis yang efektif tidak akan menyatakan sesuatu dalam dua atau tiga tarikan napas atau lebih. Dan disinilah masalah penyingkatan kalimat memainkan peranannya.

b) “Penyikatan” kata

Dalam membuat kalimat lebih bertenaga, “menyikat” habis kata yang kurang perlu juga biasa dilakukan oleh penulis ternama sekalipun. Sasarannya adalah kata yang berlebih, yang kurang jelas fungsinya didalam kalimat. Kata yang fungsinya kurang jelas perlu disingkirkan dari dalam kalimat. Kalau tidak, kekompakan kata akan terganggu karenanya, berganti dengan kecanggungan yang kurang mengenakkan.
Seringkali pemakaian kata yang berlebih itu terjadi karena ingin memberikan penekanan yang tidak perlu. Kadang-kadang juga disebabkan kebiasaan mengiringi sebuah kata dengan sinonimnya. Dalam menggunakan kata depan, orang juga sering terpeleset pada kelebihan penggunaan kata. Misalnya dalam pemakaian kata dari, pada, dariapda, oleh, dan sebagainya. Kerap kita baca : Peristiwa itu sudah diketahui oleh Presiden. Akan lebih dinamis kalau disebut Peristiwa itu sudah diketahui Presiden.
Selain itu, bentuk penyikatan yang lain dapat pula dilakukan terhadap morfem yang kurang efektif. Contoh :
Mudah-mudahan hal ini ada kemanfaatannya
Mudah-mudahan hal in ada manfaatnya

c) Pembabatan pengungkapan yang berkepanjangan

Bentuk lain penyingkatan ialah “membabat” pengungkapan yang berkepanjangan. Biasanya sasaran penyingkatan ini berupa kelompok kata; mengubahnya menjadi bentuk yang lebih singkat dan padat. Pengungkapan kata yang berkepanjangan seringkali menyebabkan sebuah kalimat kurang bertenaga. Bentuk pengungkapan berkepanjangan antara lain :
Berkepanjangan
Disingkat
– Menjadi sebab
– Mengambil keputusan
– Memainkan peranan
– Untuk menyebabkan
– Untuk memutuskan
– Untuk berperan

3. Pola yang efektif

Pola yang efektif sebetulnya tidak ada. Yang ada ialah cara yang efektif dalam mengisi pola itu, guna merangkaikan maksud dengan jelas. Dan cara yang efektif itu akan melahirkan kalimat yang efektif pula. Itulah sebabnya pola yang baik bukan merupakan tujuan dalam menghasilkan sebuah karya tulis. Pola yang betul itu hanya sekedar alat, agar unsur yang ada didalam bangun kalimat itu saling bekerja sama dengan baik. Dan menyangkut dengan gaya kalimat, soalnya bagaimana agar unsur yang mewakili pikiran utama tetap tertonjol, bukan sebaliknya. Terutama pada kalimat luas yang berisi sebuah ruas utama untuk menghasilkan kalimat yang berkekuatan, posisi ruas utama itu hendaknya diperhatikan, agar ia tetap terpancang dengan jelas.

a) Paralelisme

Dalam kalimat yang efektif, gaya paralelisme menempatkan unsur yang setara dalam konstruksi yang sama. Konstruksi yang seharian dan yang sejalan itu biasanya menampakkan diri dalam hal berikut : sama-sama berbentuk kata kerja, sama-sama berbentuk kata benda. Atau untuk lebih jelasnya, kalau berawalan me sama-ama berawalan me, berawalan di sama-ama berawalan di, dan kalau berbentuk ke – an sama-sama berbentuk ke – an pula.

Contohnya :
Yang dilakukan selama ini di kampung ialah mengurus harta pusaka, menyudahkan sawah, menjenguk sanak famili, dan membersihkan kuburan nenek.

Seorang penulis yang efektif biasanya pintar memanfaatkan gaya paralelisme untuk membuat kalimat mereka indah dan menyenangkan. Sebaliknya, kalimat yang tidak mempedulikan keselarasan dan keserasian ini akan terasa canggung dan mungkin juga mengaburkan pengertian.

b) Repetisi

Kekuatan sebuah kalimat dapat pula dibangkitkan dengan mengulang sebuah kata yang dianggap penting dalam bagian kalimat. Dalam gaya bahasa disebut repetisi. Misalnya :
Rajin membaca, rajin memperhatikan, rajin mengarang, bisa menjamin kemenangan di kemudian hari.
Tidak seluruh pengulangan itu dapat dikatakan repetisi yang efektif. Berkali-kali mengulang kata yang tidak perlu diulang dapat pula menghasilkan kalimat yang lemah dan tidak menarik. Kata yang sering diulang biasanya akan mengurangi tenaganya, kecuali kalau ada ide penting yang perlu ditekankan untuk minta pembaca.

c) Inversi

Acap kali kalimat efektif dapat diusahakan dengan membalikkan pola dasarnya. Kalau struktur biasa punya urutan subjek + predikat, maka dalam bentuk inversi jadi terbalik : predikat + subjek. Artinya, dalam pola dasar kalimat itu predikat muncul lebih dulu, lalu di bagian belakangnya muncul subjek.

Misalnya :
Sudah berkali-kali tersiar namanya dalam surat kabar ibukota.
Kabarnya betul-betul pening kepalanya menghadapi persoalan itu.

Inversi termasuk sejenis gaya kalimat. Tujuannya seperti juga tujuan gaya kalimat yang lain. Tujuannya untuk memberikan efek yang lebih besar. Dalam gaya inversi, pengarang ingin menonjolkan suatu keadaan mengenai pokok pembicaraan. Jadi, masalah inversi hanyalah soal penekanan saja. Pola kalimat tidak berubah, hanya letak unsur wajibnya yang bertukar; predikat dulu baru subyek.

d) Posisi frase dan klausa

Posisi sebuah frase maupun klausa ada kalanya mempengaruhi kekuatan sebuah kalimat. Sebuah frase atau sebuah klausa yang ditaruh dibagian belakang sebuah kalimat, pengaruhnya akan lain daripada menaruhnya di bagian depan. Contoh :

Posisi belakang
Harta bendanya disita lantaran orangnya banyak di bank .

Posisi depan
Lantaran utangnya banyak di bank, harta bendanya habis disita.

Sepintas tidak ada perbedaan yang berarti antara kedua bentuk frase atau klause yang diletakkan pada bagian depan maupun belakang, pengertiannya sama saja. Tetapi dari sudut efek yang ditimbulkannya, perbedaan urutan atau perlainan posisi frase dan klausa tadi sedikit mengandung persoalan. Apabila frase dan klausa ditampilkan lebih dahulu, berarti pembaca diberi waktu menyiapkan dirinya untuk menangkap ide sentral kalimat itu. Jadi, pembaca ditempatkan pada situasi yang agak sedikit menegangkan sebelum berhadapan dengan inti pikiran dalam kalimat itu.

e) Aktif dan Pasif

Kalimat aktif jelas lebih kuat dari kalimat pasif. Kalimat menunjukkan suatu proses dimana subyek melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Dengan demikian predikatnya pasti sebuah kata yang menunjukkan kerja atau perbuatan dan bukan menunjukkan keadaan. Kata yang menunjukkan kerja atau perbuatan tindakan dan sebagainya, lebih kuat dari kata yang menggambarkan keadaan. Contoh :

Aktif

· Mereka mulai meneruskan perjalanannya.
· Tiba-tiba ia memalingkan mukanya ke kiri

Pasif

· Perjalanan mulai diteruskan mereka
· Tiba-tiba mukanya dipalingkannya kekiri

Contoh ini memberi kita petunjuk tentang beberapa hal. Pertama, sebuah kalimat pasif dapat diubah menjadi sebuah kalimat aktif dan begitu pula sebaliknya. Kedua, kalimat aktif lebih bertenaga daripada kalimat pasif. Ketiga, dalam sebuah kalimat aktif, subyek melakukan pekerjaan, sedang dalam kalimat pasif, subyek dikenal oleh perbuatan. Keempat, kaliamt aktif ditandai oleh predikatnya yang terdiri dari kata kerja, sedang kalimat pasif, predikatnya bukan menunjukkan perbuatan melainkan keadaan. Dalam hal ini, morfem me dan morfem di dapat membedakannya dengan tajam :

Aktif

· Meneruskan
· mendirikan
· memecahkan

Pasif

· Diteruskan
· Didirikan
· Dipecahkan

Selain menggunakan morfem di, sebuah predikat kalimat pasif juga bisa terbentuk oleh morfem ber, ter, serta morfem kombinasi ke-an.
Aktif

· Langit memperlihatkan cahaya merah keabu-abuan.
· Suaranya yang merdu itu benar-benar mempesonakan kami.

Pasif

· Langit kelihatan merah keabu-abuan.
· Kami benar-benar terpesona oleh suaranya yang merdu itu.

f) Aposisi

Aposisi juga menyangkut pola kalimat dan turut mempengaruhi kekuatan kalimat itu. Misalnya seorang pengarang menulis : Buku itu kalau jadi diterbitkan akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak. Kelompok kata kalau jadi diterbitkan sebetulnya tidak pada tempatnya ditaruh disana. Tanpa kelompok kata itu kalimat tetap jalan, bahkan jelas lebih berwibawa : Buku itu akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak. Tetapi pengarang merasa perlu menggunakan kelompok kata tersebut, karena ada hubungannya dengan faktor lain. Maka cara yang efektif telah disepakati begini :
Buku itu – kalau jadi diterbitkan – akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak.
Konstruksi seperti itulah yang dimaksud dengan istilah aposisi, yaitu – dengan menggunakan tanda tertentu – menyisipkan sekelompok kata atau lebih ke dalam kalimat yang strukturnya sudah betul.

***

B. Kalimat Bervariasi

Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea kalimat yang bervariasi itu merupakan “santapan” yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan. Dengan demikian mampu membuka selera pembaca.

Pada hakikatnya seorang penulis adalah seorang pembaca. Dan seorang penulis yang efektif otomatis merupakan seorang pembaca yang terbaik. Ia menyadari, membaca merupakan sejenis kerja mental yang bera; memahami maksud sebuah bacaan memang sering kali sukar. Biasanya penulis yang baik itu selalu ingat, membaca itu meletihkan, membosankan, dan acap kali orang merasakan perbuatan membaca sebagai beban mental yang tidak selalu menyenangkan. Oleh sebab itu, pengarang sedapatnya berusaha menghalau keletihan dan kebosanan tadi.

Yang menjadi pangkal persoalan disini ialah bagaimana agar alinea demi alinea dari bacaan yang kita buat itu cukup menarik untuk dibaca. Penulis profesional umumnya mengusahakan hal itu melalui variasi kalimatnya, terutama dalam segi :
(1) cara memulainya,
(2) ukuran panjang singkatnya,
(3) struktur atau polanya, dan
(4) jenisnya.

1. Variasi dalam Cara Memulai

Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan :
(1) subyek,
(2) predikat,
(3) sebuah kata modalitas,
(4) sebuah frase,
(5) sebuah klausa, dan
(6) penekanan yang efektif.

Penulis yang berpengalaman, menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi. Agar lebih jelas, marilah kita lihat penjelasan berikut ini.

a)  Memulai Kalimat dengan Subyek

Perhatikan contoh berikut, yang semuanya dimulai dengan subyek:

  1. Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
  2. Mencari kekayaan adalah hal yang normal.
  3. Orang kaya bukanlah orang yang jahat.
  4. Tuhan tidakkah akan memberkati orang yang bekerja dengan tekun dan jujur?

Kalimat yang dimulai dengan cara subyeknya terletak di bagian depan, sangat banyak dipakai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Ini merupakan cara yang umum dan barang kali orisinal di dalam memulai kalimat. Maka cara-cara lain dalam memulai kalimat adalah merupakan variasi saja dalam menghasilkan komunikasi yang efektif.
Di dalam suatu karangan, tegasnya di dalam sebuah alinea, kalimat itu sudah lain situasinya, dibanding ketika berdiri sendiri-sendiri. Di dalam sebuah karangan, kalimat itu sudah terikat oleh hubungan kerja sama, suatu situasi, dan suatu tema atau topik. Situasi itu langsung mempengaruhi pembaca. Jadi efek yang ditimbulkan bukan lagi oleh masing-masing kalimat, melaiankan situasi yang membentuk kerja sama tadi. Kerja sama yang lancar akan memberikan kesan yang menyenangkan. Dan sebaliknya kerja sama yang tidak lancar, kaku memberikan kesan yang kurang ramah, dan menegangkan. Variasi dapat menciptakan keramahan dan menghalau ketegangan.

b) Memulai Kalimat dengan Predikat

Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, kalimat dapat diawali dengan predikat. Dapat pula dimulai dengan membalikkan predikat ke depan, kemudian subyeknya menyusul dan seterusnya disusul lagi dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Kalimat yang dimulai dengan predikat itulah yang disebut inversi. Unsur inversi bukan hanya terdapat pada permulaan kalimat, tetapi bisa juga di tengah.

c) Memulai Kalimat dengan Sebuah Kata Modal

Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea penulis dapat menggunakan sebuah kata modla untuk mengawali kalimatnya. Perbandinga di bawah ini dapat memberi petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai kalimat yang diawali dengan sebuah kata modal.

Dengan Sebuah Kata Modal

Dengan Subyek
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.

Persoalan itu Agaknya akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.

Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Semua kata yang dicetak tebal berfungsi sebagai kata modal dalam kalimat yang bersangkutan. Di dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang dapat berfungsi selaku modal. Fungsinya ialah untuk untuk memberi warna, sehingga pengertian kalimat itu seluruhnya dapat diubah. Berbagai macam sikap bisa kita lukiskan menggunakan kata modal di dalam sebuah kalimat: keragu-raguan, kepastian, kesungguhan, keharusan, keharuan, dan sebagainya.
Untuk menyatakan keragu-raguan : agaknya, barangkali, kira-kira, mungkin, rsanya.
Untuk menyatakan kepastian: tentu, pernah, pasti, jarang, betul, sekali-kali, sering.
Untuk menyatakan kesungguhan: sungguh, sesungguhnya, sekali-kali, benar, sebenarnya, lambat-laun, lama-lama.
Demikian antara lain bentuk kata modal, baik di tengah-tengah kalimat maupun untuk memberikan variasi dalam memulai sebuah alinea.sebuah kata yang bisa mengubah arti keseluruhan sebuah kalimat, maka kata itu dapat digolongkan sebagai kata modal dan dapat ditempatkan pada posisi awal sebuah kalimat. Namun kata itu bukanlah sebuah subyek dan bukan pula predikat.

d)  Memulai Kalimat dengan Sebuah Frase

Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakanuntuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea. Kalimat yang dimulai dengan frase dapat ditempatkan pada permulaan alinea,di tengah atau pada bagian akhirnya. Di dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu kalimat yang diawali dengan sebuah frase. Namun yang menjadi soal di sini bukanlah segi banyaknya, melainkan pemanfaatan sebuah frase dalam variasi kalimat.
Anda, mungkin akan menemukan bermacam-macam frase pada awal kalimat, dan semuanya dapat dilihat dari sudut variasi, untuk lebih jelas, perhatikan contoh dibawah ini ;
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
Sampai batas-batas yang luas, filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Pada musim panas tahun 1969, saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris.
Semua kelompok kata yang dicetak tebal pada contoh di atas di sebut frase. Karena letaknya di bagian depan maka disebut frase depan. Sebuah frase tidak selamanya terdapat di depan kalimat, melainkan bisa juga di tengah atau di akhir kalimat. Berikut ini adalh contoh frase yang menempati posisi tengah dan akhir.
Anak itu terus membuntuti ibunya sambil menghapus air mata.
Filsafat sampai batas-batas yang luas boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris selama musim panas tahun 1969.
Tata bahasa biasanya mengajarkan berbagai macam keterangan predikat yang sering kali kita lihat dalam bentuk frase. Diantaranya ada yang bernama keterangan waktu, keerangan sebab, keterangan perihal, keterangan kualitas dan banyak istilah yang lain.
Tata bahas juga membuat perbedaan antara frase dan kalimat. Pertama, frase itu sering kali merupakan bagian dari sebuah kalimat. Kedua, sebuah frase belum memiliki pengertian yang lengkap. Dan ketiga, di dalam sebuah frase tidak terdapat subyek dan predikat.

e) Memulai Kalimat dengan Sebuah Klausa

Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa juga bisa menempati posisi awal sebuah kalimat. Seuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, tidak soal apakah letaknya di depan, di tengah, atau di belakang. Namun untuk keperluan variasi kalimat di dalam sebuah alinea klausa bisa di gusur ke bagian depan. Contoh kalimat yang dimulai dengan sebuah klausa ialah:
Dalam lapangan apa pun kita bekerja, perbuatan kita sehari-hari akan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan, dean sebagainya. (Drs. Jazir Burhan)
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. (W.J.S. Poerwadarminta)
Kalau pertumbuhan bahasa Indonesia dibiarkan semaunya saja seperti selama ini, bahasa Indonesia akan jatuh kembali hanya menjadi bahasa pergaulan saja. (Ajib Rosidi)
Dalam contoh ini, semua kelompok kata yang dicetak tebal adalah sebuah klausa. Tata bahasa juga membuat perbedaan antara klausa dan sebuah frase. Perbedaan itu dapat dilihat dalam perbandingan di bawah ini:
Klausa

Frase
Dalam lapangan apapun kita bekerja

Dalam lapangan olahraga
Walaupun umurnya sudah tua

Walaupun demikian
Seandainya manusia tiada berbahasa

Kalau begitu
Jika karangan telah selesai ditulis

Jika telah selesai

Jelaslah bahwa antara klausa dan frase terdapat sedikit perbedaan. Di dalam sebuah klausa terdapat unsur subyek dan predikat, sedangkan frase tidak. Klausa adalah sebuah kalimat yang telah dimasuki oleh sebuah kata penghubung. Bila kata penghubung itu dihilangkan sebuah klausa akan berubah menjadi sebuah kalimat sederhana. Contoh:
Klausa

Kalimat
Walaupun umurnya sudah tua

Umurnya sudah tua.
Pada waktu kami sampai di sekolah

Kami sampai di sekolah.
Karena semua sudah selesai

Semuanya sudah selesai.
Sebelum orang tuanya meninggal

Orang tuanya meninggal

Kata penghubung yang sering digunakan dalam membentuk sebuah klausa misalnya kata setelah, seandainya, ketika, lantaran,. Agar, sekalipun, bagaikan, dan kata lain yang sekeluarga.
wadarminta)
ini. kan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan,
1.6 Memulai Kalimat dengan Penekanan yang Efektif
Kalimat di dalam sebuah alinea bukan tidak pernah dimulai dengan subyek saja. Ini bukanlah suatu kekecualian. Bila terdapat sebuah alinea yang kalimatnya selalu diawali dengan subyek, itu menandakan ada efek lain yang inga\in dikejar penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prisip-prinsip variasi, tapi untuk memburu keefektifan, tidak ada salahnya. Bahasa tidak diikat oleh keteraturan-keteraturan yang kaku. Bila perlu, sanggup melawan prinsip demi fungsinya sebagai alat komunikasi. Bila suatu cara dianggap efektif untuk suatu maksud, dan itu perlu dilaksanakan, maka di sana ketentuan-ketentuan tata bahasa atau ketentuan-ketentuan apapun tidak berdaya menghalanginya. Didalam bahasa memang sering terjadi dari norma-norma. Terjadinya penyimpangan itu adalah karena keinginan memburu efek yang maksimal, sehingga mampu memberikan gambaran yang senyata-nyatanya. Penekanan ini, ternyata efektif, lalu kita sebut penekanan yang efektif.

2. Variasi dalam Panjang-pendek Kalimat

Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempergunakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang dalam sebuah alinea. Kalimat panjang maupun singkat mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kerjasama kedua kalimat yang berbeda ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.

a) Keefektifan kalimat Singkat

Kalimat singkat memainkan peranan tertentu dalam sebuah karangan. Misalnya dalam sebuah alinea kalimat singkat tidak sama tugas serta fungsinya dengan kalimat panjang. Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatiff, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kalimat singkatlah yang melaksanakan. Disamping memberikan variasi, kalimat singkat juga akan menjadikan karangn lebih komunikatif.

2.2 Keefektifan Kalimat Panjang

Tiap penegasan tentu memerlukan uraian dan perincian. Inilah terutama tugas serta fungsi kalimat panjang dalam sebuah alinea. Tugas kalimat panjang yaitu harus memberikan uraian, ulasan, analisa, detil, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya. Memang kalimat panjanglah yang lebih tepat untuk tugas ini buat memperjelas,memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih terang serta meyakinkan.
Bagaimana kalimat yang lebih panjang memberikan uraian, perincian, ulasan, fakta, dan sebagainya. Agar lebih jelas, perhatikan contoh yang ditampilkan dengan menderetkannya ke bawah, supaya lebih mudah membandingkannya.
Menekankan : è Bertemu dengan buku tak ubahnya bertemu dengan seorang manusia.
Merinci : è Kita boleh suka atau tidak suka kepadanya, setelah mengadakan pertemuan dengan seseorang, tapi terlebih dahulu kita harus mendengarkan ia bicara.
Menekankan : è Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui orang lebih dalam tentangnya.
Merinci : è ada orang yang pada pandangan pertama saja menimbulkan simpati atau antipati pada diri kita, tapi tak mustahil kesan itu berubah setelah kita berbicara dan bertemu dengannya.
Menekankan : è Demikian juga dengan buku
è sebelum membacanya, perasaan antipati sebaiknya disimpan dulu.
è Mungkin berubah kalau kita sudah membacanya.
Merinci : è Dan kalaupun kelak tetap tidak menyukainya, kita akan dapat mengemukakan sebab-musababnya.
è Adalah lebih baik kita tidak menyukai sesuatu atau seseorang setelah kita mengetahui sebab-musababnya daripada secara apriori belaka.
Menekankan : è Apalagi menyukainya!

Peranan yang dimaikan oleh kalimat yang lebih panjang dibanding dengan kalimat yang lebih singkat, jelas sekali pada contoh ini.
, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya.

3 Variasi dalam Struktur Kalimat

Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Ini senantiasa dijadikan sasaran apabila mereka menginginkan karagaman struktur. Yang di dalamnya bisa dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat gabung. Keragaman juga melingkupi berbagai macam pola lain yang terbentuk akibat menggeser unsur-unsur tertentu. Misalnya, pola yang tersusun akibat cara memulainya yang khusus. Termasuk pola yang kita kenal dengan istilah inversi, kalimat aktif, dan kalimat pasif.

4 Variasi dalam jenis kalimat

Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat dapat menghasilkan berbagai jenis variasi. Di samping kalimat berita, juga digunakan kalimat tanya, kalimat pinta, dan kalimat seru. Begitu pula di samping kalimat tidak langsung juga digunakan kalimat langsung. Berdasarkan fungsinya kalimat dibedakan menjadi empat jenis.
Kalimat berita, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu.
Kalimat pinta, fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan lain sebagainya.
Kalimat tanya, kalimat yang menyatakan pertanyaan.
Kalimat seru, berfungsi menyatakan perasaan yang kuat. Misalnya perasaan haru, kagum, heran, benci, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Disamping kalimat tersebut, ada lagi kallimat lain yang di sebut kalimat langsung dan tidak langsung. Disebut kalimat langsung apabila menyatakan ucapan-ucapan orang lain menurut apa adanya. Bila ucapan seseorang dilukiskan dengan kata-kata dan kalimat sendiri, dengan maksud yang sama maka hasilnya adalah kalimat tidak langsung.

a)  Variasi dengan Kalimat Tanya

Kalimat tanya ternyata efektif untuk menghasilkan variasi kalimat dalam karya tulis. Memang sukar untuk menampilkan kalimat tanya dalam setiap alinea karangan. Dalam tiap karangan biasanya selalu ada bagian yang khusus memberikan informasi. Di sini kalimat beritalah yang terutama memainkan peranan. Akan tetapi, sebuah karangan tidak begitu menarik apabila di dalamnya hanya terdapat kalimat berita atau ditambah dengan kalimat pinta bagaimanapun halusnya cara penyampaiannya. Dengan kalimat berita saja, penulis berarti omong sepihak saja. Untuk itu kalimat tanya diikutsertakan. Dengan sekali-kali menampilkan kalimat tanya berarti pembaca seakan-akan diajak turut serta dalam pembicaraan itu. Kalimat tanya tidak selamanya bersifat menanyakan karena tidak tahu, akan tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan variasi. Sebuah kalimat tanya misalnya, mengapa, apakah, bukankah, benarkah, bagaimana kalau, dan lain sebagainya.

b) Variasi dengan Kalimat Seru

Namanya saja kalimat seru. Suatu permainan bisa menjadi lebih seru manakal ia dapat berperan secara tepat. Dalam sebuah karangan, kalimat seru bukan membuat bacaan menjadi lebih seru, melainkan berfungsi membahasakan ekspresi-emosional yang kuat.

c) Variasi dengan Kalimat Langsung

Variasi dengan kalimat langsung dapat diuashakan dengan kalimat langsung. Dalam memaparkan ucapan atau pendapat orang tentang sesuatusoa, penggambaran dengan kalimat langsung biasanya lebih kongkret. Banyak sumber untuk menghasilkan kalimat langsung dalam suatu karya tulis. Seperti hasil wawancara, atau tanya-jawab, pidato, atau ceramah, sebuah buku, ucapan seorang pelaku dari sebuah cerita fiksi. Beberapa ucapan yang kita rasa penting, dan yang kita anggap ucapan ekspresif, kita tampilkan dalam bentuk kalimat langsung.

C. Kesimpulan

Kalimat efektif itu mampunyai tenaga gaib yang dapat manggerakkan tenaga, hati, pikiran dan emosi orang serta dapat menyuruh orang menangis, tertawa dll. Sebaliknya, ada juga kalimat yang tidak bertenaga karena disebabkan oleh pemikiran tentang “apa yang dikatakan”soal gaya bahasa adalah hasil dari pemikiran tentang “bagaimana mengatakan sesuatu”. Gaya kalimat di dalam karyatulis dapat tercipta melalui suatu cara yang umum,yaitu memaparkan apa yang dimaksud dengan langgam bicara. Untuk dapat menghasilkan kalimat dengan langgam bicara ini harus dapat memilih kata dan tentng konstruksi yang efektif
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kata ialah:
Ø menentuka kata yang tepat ,kemudin memakai pada kata yang tepat
Ø manjauhkan kata klise
Ø memberkan konotasi yang tepat pada suatu kata
Kalimat efektif itu berfariasi,variasi kalimat dapt diusahakan lewat empat cara dengan cara memulainya,menentukan panjang singkatnya, keragaman struktur atau polanya, dan menyelang-nyalingnya dengan kalimat Tanya, kalimat seru, dan kalimat langsung.


About this entry